Angin bertiup melewati sela-sela kelopak mata. Samar-samar kesadaran mulai kembali. Penglihatanku masih rabun. Mataku berusaha menangkap segala cahaya warna-warni yang menyilaukan. Semerbak harum menyeruak. Terdengar bunyi tawa dari dalam sana, membuatku bertanya-tanya apakah di sana orang-orang sedang berpesta? Oh Tuhan, inikah yang Engkau sebut di ayat-ayat-Mu sebagai surga itu? Setelah penantian yang panjang, akhirnya, aku sampai pada tujuan terakhir hidupku. Di saat itulah, aku langsung berlari mencarimu.

Entah aku akan menemukanmu atau tidak, aku akan tetap akan mencarimu. Dulu, waktu kita masih bertemu di dunia, kamu lah yang pertama kali menghampiriku. Sekarang, giliran aku yang berjalan maju dan menjangkaumu. Kalau pun kamu tidak ada di surga, aku tidak akan ragu untuk langsung bersujud memohon pada Tuhan. Di antara semua permohonan yang bisa aku minta di surga, aku akan memohonkan syafaat untukmu terlebih dahulu. Aku tidak akan mengangkat kepalaku dari sujud sampai doaku dikabulkan oleh Allah. Dan andaikan itu semua tidak cukup, aku akan pergi mencari setiap nabi hingga bertemu Nabi Muhammad SAW. Kepadanya, aku akan memohon untuk berdoa bersama, memohonkan syafaat untuk orang yang aku sayangi.

Sayang…
Ketika akhirnya doaku dikabulkan, aku melihatmu dari kejauhan, berjalan dari arah gerbang surga. Badanmu masih terhuyung karena lelahnya menempuh perjalanan yang berat. Kamu masih mengusap-ngusap matamu, seakan tidak percaya dengan gerbang surga yang kamu lihat di depan. Terlihat samar, tetapi juga nyata.

Teng, teng, teng…

Bunyi lonceng berbunyi, menghentakkan kamu dari lamunanmu, diikuti dengan suara misterius yang entah datang dari mana. “Oryza… Masuklah kamu ke dalam surga. Damai sejahtera tercurahkan kepadamu.” Oh, ya ampun betapa bahagianya aku hari ini. Aku lari terburu-buru ke arahmu, diikuti dengan para bidadari surga yang tunggang-langgang mengganti pakaianku. Oryza sayang, kamu ingat? Dulu, kamu selalu bilang kepadaku “Juna lo itu ganteng, tapi sayangnya kurang kaya aja.” Kamu juga dulu sering mengejek potongan rambutku yang murah itu. Hasilnya hanya membuatmu tergelak seharian. “Hahaha… Juna, kok lu botak sih? Juna botakku ‘3’).” Begitulah ledekmu yang diikuti dengan penghiburan untukku, “Tapi, lo tetep ganteng kok Jun.”

Oryza! Dengar baik-baik. Hari ini, aku akan menyambutmu dengan penampilan orang kaya yang selalu kamu bilang itu, dengan rambut comma hair yang menyibak dahi, tuxedo terbuka, veste yang terkancing rapi, dan juga pin hias tersemat di dada. Tidak lupa, kubawa buket bunga-bunga surgawi. Biru dan kuning warnanya. Dulu, aku belum sempat memberimu bunga di hari kelulusanmu, bukan? Kita sudah terlanjur berpisah sebelum itu.

Oryza sayang…
Selamat yaa…
Selamat karena kamu sudah lulus hari ini.

Kamu lulus dari ujian yang dinamakan kehidupan dunia. Dulu, aku selalu bilang ke kamu, “Andaikan kita bertemu di real life, hal pertama yang bakal gua lakuin adalah meluk lo Za.” Oryza, hari ini aku minta izin untuk melanggar janji kita. Sekarang, rasanya aku lebih ingin menyentil dahimu yang lebar itu lebih dulu sambil berkata, “Bodoh… anak bodoh.”

Jariku bergetar. Mataku berkaca-kaca. Tanpa sadar aku sudah jatuh ke pelukanmu. Tangan kiriku melingkar di punggungmu dan tangan kananku mengusap kepalamu. Kepadamu, kukatakan,

 “Terima kasih…”

“Terima kasih karena sudah tidak menyerah. Terima kasih karena sudah berjuang sejauh ini. Padahal, lo yang lebih muda, tapi kenapa malah menahan semuanya sendirian? Jangan menderita sendirian lagi. Ada juna di sini yang bakal selalu nemenin Oryza. Lo selalu doa minta diberikan sahabat yang saleh kan? Hari ini, biarkan gua jadi jawaban atas doa lo. Gua ga pernah marah dengan lo Za. Gua hanya sedih karena gua takut lo kehilangan jalan lo. Tapi ternyata, lo tidak tersesat kehilangan jalan. Lo sudah menemukan jalan pulang yang tepat, bahkan tanpa bimbingan gua. Kalau bukan karena usaha lo, gua ga akan bisa narik lo ke surga. Hari ini, usaha lo diapresiasi seutuhnya. Oryza sayang, Juna bangga dengan Ryza. Juna sayang sama Ryza.”

Za, gimana mukaku hari ini? Dulu kamu selalu meledek, “Juna mana muka item lo? Sini, tunjukin ke gua”. Hari ini, mukaku sudah tidak hitam lagi kan? Bercahaya. Persis seperti arti dari namaku, Arjuna (dia yang bersinar terang keperakan).

Kamu ingat nggak? Dulu kamu bilang “Juna andaikan kita ketemu waktu kecil, we will cancel each other trauma.” Za, permohonan surgawiku berikutnya adalah aku ingin Tuhan membuat badan kita kembali menjadi seperti anak kecil yang polos lagi. Aku akan main denganmu. Aku akan menjagamu. Aku akan melindungimu.

Kalau tidak ada yang menyayangimu di waktu kecil, biarkan Abang yang menyayangi Adiknya hari ini. Adik kecil yang manis, ayo kita pergi kencan untuk pertama kalinya!  Kita akan mengeksplor taman-taman surga dan tempat-tempat baru lainnya bersama.

Za, salah satu kegiatan yang ingin aku lakukan dari dulu adalah mendengarkan musik bersama dengan orang yang aku sayangi sambil berjalan santai di taman. Kupakai earphone-ku dan kamu pakai earphone-mu. Dua earphone terhubung menjadi satu dengan konektor. Kita mendengarkan lagu yang sama. Dulu, kamu selalu bilang music taste-nya Juna aneh banget kan? Hari ini, aku akan pilih lagu-lagu pilihan terbaikku. Ini adalah lagu-lagu yang membuatku bertahan selama ini di dunia, sendirian tanpamu. Ini musik-musik instrumental tanpa lirik. Kamu lah yang mesti mengisi liriknya sendiri dengan perasaanmu. Gimana? Cantik kan? Secantik matamu yang lembut itu.

Oryza sayang, dulu kamu selalu membangga-banggakan kasurmu yang besar dan empuk itu kan? Sesuatu yang selalu bikin aku iri karena kasurku kecil dan keras. Kamu selalu bilang “Juna, lo mesti ngerasain kasur gua. Kalo nanti ke Jakarta, nanti tidur di sini aja yaa di samping gua.” Hari ini, akhirnya aku bisa tidur di sampingmu, di kasur surga yang mewah layaknya singgasana para Raja. Kita berbaring melihat langit surga. Kamu ingat? Kamu selalu ingin menunjukkan citylights Jakarta ke aku. Sekarang menurutmu, manakah yang lebih indah? Langit malam kota Jakarta atau langit surga? Di surga, langit bersolek dengan kerlap-kerlip cahaya yang bahkan warnanya belum pernah kita temui di dunia. Cantik kan? Secantik matamu yang ikut berkerlap-kerlip itu.

Za, kamu ingat nggak? Dulu kamu selalu bilang, “Gua pengen peluk lo Jun sampai dada kita saling ketemu. Jadinya, lo bisa ngerasain detak jantung gua dengan dada lo dan gua bisa ngerasain detak jantung lo dengan dada gua.” Oryza, sekarang kita bahkan ga harus pelukan sampai seerat itu hanya untuk merasa dimengerti. Dengan kamu yang ada di sampingku saja, aku sudah bisa memahamimu seutuhnya. Ruh kita saling terkoneksi melampaui batas validasi fisik.

Za, kadang aku bertanya-tanya. Apakah sebenarnya takdir yang tertulis untukku di Lauh Mahfuz adalah Juna masuk neraka karena dosa zina yang terlampau berat? Ini memang ekstrem, tapi kamu tau sendiri kan bagaimana keadaanku? Dari aku kecil sampai besar, situasiku selalu mendorongku ke arah perbuatan dosa zina. Korban pedofilia selalu berpeluang besar menjadi pelaku di masa depan. Traumaku bisa saja malah jadi justifikasi atas perbuatanku. Za, aku penasaran. Takdir awalku yang tertulis sebelum ada intervensi apapun, sebenarnya, itu cerita takdir yang seperti apa? Apa iya aku memang ditakdirkan untuk masuk neraka awalnya? Apa iya aku memang akan menjadi pelaku juga? Aku ingin baca Lauh Mahfuz. Aku ingin baca cerita asliku. Aku ingin membandingkan sejauh mana alur ceritanya berubah karena usaha dan keputusanku. Tapi, aku nggak mau baca ini sendiri. Aku ingin para malaikat menyanyikan kisahku diiringi dengan alunan orkestra yang dimainkan oleh para bidadari surga, seperti para Raja terdahulu yang dihibur oleh para troubadour.  Tapi Za, aku nggak mau menikmati ini sendirian. Aku ingin kamu juga mendengarkan kisah perjuanganku untuk bertemu denganmu di surga. Di dalam kisah itu, kamu akan melihat saat-saat rapuhku dan saat-saat aku kehilangan harapan. Dan dengan kisah itu, akan aku buat kamu menangis haru melihat momen kebangkitanku. Ryza sayang, ayo dengarkan bersama cerita yang kutulis.

Angin sejuk nan lembut bak angin sore berhembus kembali menyeka air mata kita. Tidak terasa badan kita jatuh bersama dalam keadaan bersujud. Kedamaian yang tak bisa dijelaskan merasuk ke setiap nadi di dalam tubuh. Untuk pertama kalinya kita beribadah bersama dan mengucapkan “Terima kasih Tuhan karena telah mempertemukan kami kembali. Alhamdulillah.”

~Aku begitu menyayangimu hingga aku ikhlas melepaskan apa yang begitu aku cintai dari dunia.~

NAMA : Arjuna Arka Laksana

Kirimkan cerita / luahan ke http://nadyabooks.com/submit-bm

Baca Cerita: https://nadyabooks.com/stories

Discover more from Nadya Books

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading