Dalam diamku, sebuah cermin.
Di sudut mall yang ramai, sunyi di mataku.
Beberapa hijab-hijab dirapikan, oleh tangan-tangan yang baru selesai ibadah.

Dalam diamku, sebuah pemahaman datang perlahan.
Kewanitaanku, untuk pertama kalinya terasa begitu damai.

Keperempuanan yang tumbuh apa adanya dari dalam.
Bukan dari riasan di wajah,
bukan dari hiasan yang menempel di tubuh.

Dalam diamku, akhirnya aku merasa diterima.
Aku yang tak pandai berdandan.
Aku yang tak pernah mengikuti mode.
Namun cermin itu tak pernah berbohong.
Ada keindahan di dalam diriku sebagai fitrahnya seorang perempuan.

Dan padamu, Islam, di sini aku pulang.
Tak ada yang mengukur kecantikanku dari tebal tipisnya riasan.
Tak ada cermin yang menghakimi dan berbisik “kamu kurang.”

Islam memelukku dengan kesederhanaannya,
Jalan hidup yang telah lama menjadi caraku, jauh sebelum dunia menyebutnya tren.

Islam mengerti,
Betapa perempuan kerap mencari dirinya di mata orang lain.
Dibalik kerasnya rupa, seseorang wanita tetap ingin terlihat indah di hadapan orang terkasih.

Dalam diamku, aku mengagumi.
Keindahan yang Islam berikan, bukan untuk dipamerkan,
tapi untuk dirasakan, jauh di dalam hati.

Dalam diamku, perlindungan Islam mengingatkanku.
Tak perlu ku menghamba keindahan wanita lain,
karena, aku pun memilikinya.

NAMA : Hania Imani

Kirimkan cerita / luahan ke http://nadyabooks.com/submit-bm

Baca Cerita: https://nadyabooks.com/stories

Discover more from Nadya Books

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading