Banyak orang menyangka, engkau lahir di bulan Juni.
Seperti halnya hujan di bulan Juni, engkau adalah anomali.
Langsung mati suri ketika lahir.
Engkau yang masih bayi, menangis saat adzan dhuhur.
Di saat orang tuamu mulai merelakanmu.
Bagi Sapardi Djoko Damono,
“Tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu.”
Bagimu,
Tak ada yang lebih tabah
dari hujan di bulan Juni,
Dirahasiakannya sakit yang menyiksa.
Yang dulu pernah engkau kalahkan selama 33 tahun,
kini kembali merampas hari-harimu.
Setiap pekan, sang takdir membawa kabar.
Kadang membawa tenang, kadang membawa bayang-bayang.
Ketakutan yang sama, sesekali menampar harapan kita.
Banyak yang memintamu bertahan.
Begitu banyak yang menyayangimu.
Izinkan aku tidak bermuram di malam pergantian 1 Muharam ini.
Bulan Juni yang setia pada bumi yang kering,
kali ini dia tidak setia.
Mengizinkan hujan turun.
Menjadikan malam mustajab.
Membuka pintu-pintu keajaiban untukmu.
NAMA : Senandika
Kirimkan cerita / luahan ke http://nadyabooks.com/submit-bm
Baca Cerita: https://nadyabooks.com/stories